Slide Title 1

Aenean quis facilisis massa. Cras justo odio, scelerisque nec dignissim quis, cursus a odio. Duis ut dui vel purus aliquet tristique.

Slide Title 2

Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.

Slide Title 3

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Minggu, 16 Desember 2012

Jumat, 14 Desember 2012

ahmad rasito

PENENTUAN NITRAT DAN FOSFAT


                                              PENENTUAN NITRAT
A.   MAKSUD DAN TUJUAN
§  Untuk mengetahui tehnik pengambilan dan pengawetan sampel air untuk  analisis nitrat.
§  Untuk mengetahui tehnik pengukuran air untuk nitrat.
B.  BAHAN DAN ALAT
§  Alat yang digunakan adalah spectrofotometer, buret, statif, botol Winkler, erlenmeyer, gelas ukur, pipet, beker gelas dan labu takar.
§  Bahan yang digunakan adalah sampel air, larutan brusin sulfanilat, larutan H2SO4 1/2 pekat, larutan NaCl, larutan standar KNO3, larutan H2SO4 1 N atau larutan NaOH 1 N.
C.   METODE DAN ANALISIS DATA
C.1.  Prosedur untuk Nitrat
§   Encerkan larutan standar nitrat (kadar 100 ppm), buat larutan standar yang berkadar 0,0;  0,05;  0,10;  0,20;  0,40;  0,80; 1,00; 1,50  dan  2,00  ppm.  
§   Tambahkan 2 ml larutan NaCl, 10 ml larutan H2SO4 dan 0,5 ml larutan brusin sulfanilat  ke dalam masing-masing larutan standar dan goyang sampai merata. 
§   Kemudian panaskan di atas hot plate selama beberapa waktu sampai timbul warna kuning.
§   Ambil sebanyak 10 ml air sampel yang telah disaring dan tuangkan ke labu takar 50 ml serta tambahkan kedua larutan tersebut seperti pada larutan standar nitrit. Lalu tambahkan lagi akuades sampai volume menjadi 25 ml. 
§   Bandingkan warna air sampel dengan larutan standar dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm.
§   Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut :
Kadar  Nitrat   =  A    x  S   =  …..  ppm NO3-N
A  =  absorban sampel
S   =  kemiringan/unit  absorban.
C.2.  Analisis Data
Data parameter nitrat yang diperoleh dapat anda analisis secara deskriptif dengan histogram atau diagram balok antara titik sampling atau waktu sampling atau dengan standar kualitas tertentu.
D.   HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
§  Data nitrat yang diperoleh, tabulasikan atau buatlah dalam bentuk grafik dengan standar umum bagi kehidupan organisme air.
§  Bandingkan dan jelaskan fenomena parameter nitrat antara stasiun pengambilan sampel yang diambil.
E.    KESIMPULAN DAN SARAN
§  Berdasarkan hasil dan pembahasan yang saudara uraikan tersebut, maka tariklah kesimpulannya.
§  Kemudian berikannya saran-saran yang berkaitan dengan topik ini.

I.             PENENTUAN FOSFAT
A.   MAKSUD DAN TUJUAN
§  Untuk mengetahui tehnik pengambilan dan pengawetan sampel air untuk  analisis fosfat.
§  Untuk mengetahui tehnik pengukuran air untuk fosfat.
B.  BAHAN DAN ALAT
§  Alat yang digunakan adalah spectrofotometer, buret, statif, botol Winkler, erlenmeyer, gelas ukur, pipet seukuran, beker gelas dan labu takar.
§  Bahan yang digunakan adalah sampel air, larutan ammonium molibdat, larutan SnCl2, dan larutan standart  fosfat 100 ppm.
C.   METODE DAN ANALISIS DATA
C.1.  Prosedur
§   Encerkan larutan baku fosfat (kadar 100 ppm), buat larutan standar yang berkadar 0,0;  0,05;  0,10;  0,20;  0,40;  0,80; 1,0 dan 1,5  ppm P.  
§   Tambahkan 2 ml larutan ammonium molibdat ke dalam masing-masing larutan standar dan goyang sampai merata. 
§   Tambahkan 5 tetes larutan SnCl2 dan kocok, sehingga timbul warna biru yang ketajamannya sebanding dengan kepekatan kadar P. Warna biru akan terbentuk dalam 10 sampai 12 menit dan perlu penambahan larutan SnCl2 lagi satu tetes agar terbentuk warna biru yang lebih baik
§   Ukur dan tuangkan 50 ml air sampel ke labu takar 100 ml. 
§   Bandingkan warna biru air sampel dengan larutan standar dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 690 nm.
§   Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut :
Kadar  ortofosfat  =  A    x  S   = ….. ppm PO4-P
A  =  absorban sampel
S  =  kemiringan/unit  absorban.
C.2.  Analisis Data
Data parameter ortofosfat yang diperoleh dapat anda analisis secara deskriptif dengan histogram atau diagram balok antara titik sampling atau waktu sampling atau dengan standar kualitas tertentu.
D.   HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
§  Data ortofosfat yang diperoleh, tabulasikan atau buatlah dalam grafik dengan standar umum bagi kehidupan organisme air.
§  Bandingkan dan jelaskan fenomena parameter ortofosfat antara stasiun pengambilan sampel yang diambil.
E.    KESIMPULAN DAN SARAN
§  Berdasarkan hasil dan pembahasan yang saudara uraikan tersebut, maka tariklah kesimpulannya.
Kemudian berikannya saran-saran yang berkaitan dengan topik ini.
 DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G dan Sri Sumestri, Santika. 1987. Metoda Penelitian Air.  Penerbit Usaha Nasional, Surabaya.
APHA. 1998. Standart Methods of the Examination of Water and Wastewater.  American Water Works Association Water Pollution Control Federation, New York.
DPMA. 1981. Pedoman Pengamatan Kualitas Air. Direktorat Jeneral Pengairan, DPU-RI, Jakarta.
Dresscher, Th. G. N. and H. V. der Mark.  1976. A Simplified Method for the Assessment of the Quality of Fresh and Slighty Brackish Water. Hydrobiologia, 48 (3) : 199  -  201.
Environmental Protection Agency (EPA). 1983. Methods For Chemical Analysis Of Water And Wastes.  Environemntal Monitoring and Support Laboratory, Cincinati, Ohio. pp.
Koesoebiono. 1986. Metode dan Teknik Pengukuran Biologi Perairan. Training Penyusunan AMDAL. PPLH-IPB, Bogor.
Sahri, A. dkk. 1996. Kimia Lingkungan dan Pencemaran. Laporan Praktikum. Program Pasca Sarjana, Bidang Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB, Bogor.
Wardhana, W. A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.
Wisjnuprapto. 1992. Petunjuk Praktikum Analisa Bahan Pencemaran di Dalam Air.  Pusat Antar Universitas-Bioteknologi ITB, Bandung.

Rabu, 12 Desember 2012

Penentuan Trayek pH Indikator Ekstrak Bunga Bugenvil (Bougainvillea spectabilis) Menggunakan Metode Titrasi Potensiometri



ABSTRAK

Penentuan Trayek pH Indikator Ekstrak Bunga Bugenvil
(Bougainvillea spectabilis) Menggunakan Metode Titrasi
Potensiometri


(Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura)

Mahalnya harga indikator asam basa dan keberadaannya yang sulit terutama di sekolah – sekolah yang letaknya jauh dari dari perkotaan mengakibatkan tidak dapat dilaksanakan.  Oleh karena itu disarankan penggunaan senyawa bahan alam seperti bunga, buah dan sayuran yang berwarna sebagai alternative indicator asam basa.  Ekstrak bunga bugenvil (Bougainvillea spectabilis) memberikan warna ungu dalam larutan asam dan memberikan warna hijau dalam larutan basa.  Fakta ini mengindikasikan bahwa ekstrak bunga bugenvil dapat digunakan sebagai indicator asam basa.

Salah satu kegunaan indicator asam basa adalah menunjukkan titik akhir titrasi.  Untuk tujuan ini, penentuan trayek Ph indicator ekstrak bunga bugenvil perlu dilakukan.  Tujuan penelitian ini adalah (1) menentukan trayek pH indicator ekstrak bunga bugenvil menggunakan metode titrasi potensiometri dan (2) menentukan persen kesalahan indicator ekstrak bunga bugenvil dibandingkan dengan indicator fenolftalein.  Metode yang digunakan untuk menentukan trayek Ph indicator ekstrak bunga bugenvil adalah metode titrasi potensiometri.  Keakuratan indicator ekstrak bunga bugenvil ditentukan dengan membandingkan volum asam oksalat yang digunakan untuk mentitrasi larutan NaOH menggunakan indicator ekstrak bung bugenvil dan indicator fenolftalein.







Kata Kunci: trayek Ph, indicator asam basa, ektrak bunga bugenvil, titrasi   
                   potensiometri



budidaya jeruk tuba barat



1.         SEJARAH SINGKAT
            Tanaman jeruk adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk tumbuh. Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami atau dibudidayakan. Tanaman jeruk yang ada di Indonesia adalah peninggalan orang Belanda yang mendatangkan jeruk manis dan keprok dari Amerika dan Itali.
2.         JENIS TANAMAN
            Klasifikasi botani tanaman jeruk adalah sebagai berikut:
Divisi   :           Spermatophyta
Sub Divisi:      Angiospermae
Kelas   :           Dicotyledonae
Ordo    :           Rutales
Keluarga:         Rutaceae
Genus  :           Citrus
Species:           Citrus sp.

Jenis jeruk lokal yang dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk Keprok (Citrus reticulata/nobilis L.), jeruk Siem (C. microcarpa L. dan C.sinensis. L) yang terdiri atas Siem Pontianak, Siem Garut, Siem Lumajang, jeruk manis (C. auranticum L. dan C.sinensis L.), jeruk sitrun/lemon (C. medica), jeruk besar (C.maxima Herr.) yang terdiri atas jeruk Nambangan-Madiumdan Bali. Jeruk untuk bumbu masakan yang terdiri atas jeruk nipis (C. aurantifolia), jeruk Purut (C. hystrix) dan jeruk sambal (C. hystix ABC)
Jeruk varietas introduksi yang banyak ditanam adalah varitas Lemon dan Grapefruit. Sedangkan varitas lokal adalah jeruk siem, jeruk baby, keprok medan, bali, nipis dan purut.
3.         MANFAAT TANAMAN     
1)    Manfaat tanaman jeruk sebagai makanan buah segar atau makanan olahan, dimana kandungan vitamin C yang tinggi.
2)    Di Beberapa negara telah diproduksi minyak dari kulit dan biji jeruk, gula tetes, alkohol dan pektin dari buah jeruk yang terbuang. Minyak kulit jeruk dipakai untuk membuat minyak wangi, sabun wangi, esens minuman dan untuk campuran kue.
3)    Beberapa jenis jeruk seperti jeruk nipis dimanfaatkan sebagai obat tradisional penurun panas, pereda nyeri saluran napas bagian atas dan penyembuh radang mata.
4.         SENTRA PENANAMAN
            Sentra jeruk di Indonesia tersebar meliputi: Garut (Jawa Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Medan (Sumatera Utara). Karena adanya serangan virus CVPD (Citrus Vein Phloen Degeneration), beberapa sentra penanaman mengalami penurunan produksi yang diperparah lagi oleh sistem monopoli tata niaga jeruk yang saat ini tidak berlaku lagi.
5.         SYARAT TUMBUH
5.1.      Iklim
1.         Kecepatan angin yang lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Untuk daerah yang intensitas dan kecepatan anginnya tinggi tanaman penahan angin lebih baik ditanam berderet tegak lurus dengan arah angin.
2.         Tergantung pada spesiesnya, jeruk memerlukan 5-6, 6-7 atau 9 bulan basah (musim hujan). Bulan basah ini diperlukan untuk perkembangan bunga dan buah agar tanahnya tetap lembab. Di Indonesia tanaman ini sangat memerlukan air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus.
3.         Temperatur optimal antara 25-30 derajat C namun ada yang masih dapat tumbuh normal pada 38 derajat C. Jeruk Keprok memerlukan temperatur 20 derajat C.
4.         Semua jenis jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari.
5.         Kelembaban optimum untuk pertumbuhan tanaman ini sekitar 70-80%.

5.2.      Media Tanam
1.         Tanah yang baik adalah lempung sampai lempung berpasir dengan fraksi liat 7- 27%, debu 25-50% dan pasir <>
2.         Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok untuk budidaya jeruk.
3.         Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk budidaya jeruk adalah 5,5– 6,5 dengan pH optimum 6.
4.         Air tanah yang optimal berada pada kedalaman 150–200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.
5.         Tanaman jeruk dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki kemiringan sekitar 30°.


5.3.      Ketinggian Tempat
Tinggi tempat dimana jeruk dapat dibudidayakan bervariasi dari dataran rendah
sampai tinggi tergantung pada spesies:

1.         Jenis Keprok Madura, Keprok Tejakula: 1–900 m dpl.
2.         Jenis Keprok Batu 55, Keprok Garut: 700-1.200 m dpl.
3.         Jenis Manis Punten, Waturejo, WNO, VLO: 300–800 m dpl.
4.         Jenis Siem: 1–700 m dpl.
5.         Jenis Besar Nambangan-Madiun, Bali, Gulung: 1–700 m dpl.
6.         Jenis Jepun Kasturi, Kumkuat: 1-1.000 m dpl.
7.         Jenis Purut: 1–400 m dpl.

6.         PEDOMAN BUDIDAYA    
6.1.      Pembibitan
    Persyaratan Benih
    Bibit jeruk yang biasa ditanam berasal dari perbanyakan vegetatif berupa penyambungan tunas pucuk. Bibit yang baik adalah yang bebas penyakit, mirip dengan induknya (true to type), subur, berdiameter batang 2-3 cm, permukaan batang halus, akar serabut banyak, akar tunggang berukuran sedang dan memiliki sertifikasi penangkaran bibit.
    Penyiapan Benih
    Bibit yang biasa digunakan untuk budidaya jeruk didapatkan dengan cara generatif dan vegetatif.
    Teknik Penyemaian Bibit
    a)     Cara generatif
    Biji diambil dari buah dengan cara memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang.
    Areal persemaian memiliki tanah yang subur. Tanah diolah sedalam 30-4- cm dan dibuat petakan persemaian berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1 m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2.

    Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram. Setelah tanam, persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1).
    b)     Cara Vegetatif
    Metode yang lazim dilakukan adalah penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (onderstam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan oleh penangkar adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange.

6.2.      Pengolahan Media Tanam
Tanaman jeruk ditanam di tegalan tanah sawah/di lahan berlereng. Jika ditanam di suatu bukit perlu dibuat sengkedan/teras. Lahan yang akan ditamani dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini:

1) Keprok dan Siem : jarak tanam 5 x 5 m
2) Manis          : jarak tanam 7 x 7 m
3) Sitrun (Citroen)       : jarak tanam 6 x 7 m
4) Nipis           : jarak tanam 4 x 4 m
5) Grape fruit  : jarak tanam 8 x 8 m
6) Besar           : jarak tanam (10-12) x (10-12) m

Lubang tanam hanya dibuat pada tanah yang belum diolah dan dibuat 2 minggu sebelum tanah. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas tanah (25 cm). Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 20 kg pupuk kandang. Setelah penanaman tanah dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Bedengan (guludan) berukuran 1 x 1 x 1 m hanya dibuat jika jeruk ditanam di tanah sawah.
6.3.      Teknik Penanaman
Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan:

1) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan.
2) Pengurangan akar.
3) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.
Setelah bibit ditaman, siram secukupnya dan diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitarnya. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang.
Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.
6.4.      Pemeliharaan Tanaman

    Penyulaman
    Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.
    Penyiangan
    Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.
    Pembubunan
    Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.
    Pemangkasan
    Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif/tidak diinginkan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya.
    Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.
    Pemupukan
    Pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah sebagai berikut:


    a) 1 bulan
            :           Urea=100; ZA=200; TSP=25; ZK=100; Dolomit=20; P.kandang=20 kg/tan.
    b) 2 bulan    :           Urea=200; ZA=400; TSP=50; ZK=200; Dolomit=40; P.kandang=40 kg/tan.
    c) 3 bulan    :           Urea=300; ZA=600; TSP=75; ZK=300; Dolomit=60; P.kandang=60 kg/tan.
    d) 4 bulan    :           Urea=400; ZA=800; TSP=100; ZK=400; Dolomit=80; P.kandang=80 kg/tan.
    e) 5 bulan    :           Urea=500; ZA=1000; TSP=125; ZK=500; Dolomit=100; P.kandang=100 kg/tan.
    f) 6 bulan     :           Urea=600; ZA=1200; TSP=150; ZK=600; Dolomit=120; P.kandang=120 kg/tan.
    g) 7 bulan    :           Urea=700; ZA=1400; TSP=175; ZK=700; Dolomit=140; P.kandang=140 kg/tan.;
    h) 8 bulan    :           Urea=800; ZA=1600; TSP=200; ZK=800; Dolomit=160; P.kandang=160 kg/tan.
    i) >8 bulan   :           Urea >1000; ZA=2000; TSP=200; ZK=800; Dolomit=200; P.kandang=200 kg/tan.

    Pengairan dan Penyiraman
    Penyiraman jangan menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.
    Penjarangan Buah
    Pada tahun di mana pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan dan bobot buah serta kualitas buah terjaga. Buah yang dibuang meliputi buah yang sakit, yang tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama terdapat dan sisakan hanya 2-3 buah.




7.         HAMA DAN PENYAKIT   
7.1.      Hama

1.      Kutu loncat (Diaphorina citri.)
Bagian yang diserang adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.
Gejala: tunas keriting, tanaman mati.
Pengendalian: menggunakan insektisida bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC). Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, Selain itu buang bagian yang terserang.
2.         Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian yang diserang adalah tunas muda dan bunga.
Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.
Pengendalian: menggunakan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Malathion (Gisonthion 50 EC).
3.         Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
Bagian yang diserang adalah daun muda.
Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok.
Pengendalian: semprotkan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC, Basudin 60 EC), Malathion (Gisonthion 50 EC, 50 WP)<>
4.         Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
Bagian yang diserang adalah tangkai, daun dan buah.
Gejala: bercak keperakperakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
Pengendalian: semprotkan insektisida Propargite (Omite), Cyhexation (Plictran), Dicofol (Kelthane), Oxythioquimox (Morestan 25 WP, Dicarbam 50 WP).
5)         Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)
Bagian yang diserang adalah buah.
Gejala: lubang yang mengeluarkan getah.

Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi kemudian menggunakan insektisida
Methomyl (Lannate 25 WP, Nudrin 24 WSC), Methidathion (Supracide 40 EC)
yang disemprotkan pada buah berumur 2-5 minggu.
6)         Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)
Bagian yang diserang Helopeltis antonii.
Gejala: bercak coklat kehitaman dengan
pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis.
Pengendalian: semprotkan insektisida Fenitrotionmothion (Sumicidine 50 EC), Fenithion (Lebaycid), Metamidofos (Tamaron), Methomil (Lannate 25 WP).
7)         Ulat penggerek bunga dan puru buah (Prays sp.)
Bagian yang diserang adalah kuncup bunga jeruk manis atau jeruk bes.
Gejala: bekas lubang-lubang bergaris tengah 0,3-0,5 cm, bunga mudah rontok, buah muda gugur sebelum tua.
Pengendalian: gunakan insektisida dengan bahan aktif Methomyl (Lannate 25 WP) dan Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian buang bagian yang diserang.
8)         Thrips (Scirtotfrips citri.)
Bagian yang diserang adalah tangkai dan daun muda.
Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang-kadang disertai nekrotis.
Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari measuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan insektisida berbahan aktif Difocol (Kelthane) atau Z-Propargite (Omite) pada masa bertunas.
9)         Kutu dompolon (Planococcus citri.)
Bagian yang diserang adalah tangkai buah.
Gejala: berkas berwarna kuning,
mengering dan buah gugur.
Pengendalian: gunakan insektisda Methomyl (Lannate 25 WP), Triazophos (Fostathion 40 EC), Carbaryl (Sevin 85 S), Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian cegah datangnya semut yang dapat memindahkan kutu.


10)       Lalat buah (Dacus sp.)
Bagian yang diserang adalah buah yang hampir masak.
Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
Pengendalian: gunakan insektisida Fenthion (Lebaycid 550 EC), Dimethoathe (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC) dicampur dengan Feromon Methyl-Eugenol atau protein Hydrolisate.
11)       Kutu sisik (Lepidosaphes beckii Unaspis citri.)
Bagian yang diserang daun, buah dan tangkai.
Gejala: daun berwarna kuning, bercak khlorotis dan gugur daun. Pada gejala serangan berat terlihat ranting dan cabang kering dan kulit retak buah gugur.
Pengendalian: gunakan pestisida Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G, Basazinon 45/30 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Dichlorophos (Nogos 50 EC), Methidhation (Supracide 40 EC).
12)       Kumbang belalai (Maeuterpes dentipes.)
Bagian yang diserang adalah daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah.
Gejala: daun gugur, ranting muda kadang-kadang mati.
Pengendalian: perbaiki sanitasi kebun, kurangi kelembaban perakaran. Kemudian gunakan insektisida Carbaryl (Sevin 85 S) dan Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G).
7.2.      Penyakit

1.      CVPD
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang.
Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.
Pengendalian: gunakan tanaman sehat dan bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk vektor dan perhatikan sanitasi kebun yang baik.
2.         Tristeza
Penyebab: virus Citrus tristeza dengan vektor Toxoptera. Bagian yang diserang jeruk manis, nipis, besar dan batang bawah jeruk Japanese citroen.
Gejala: lekuk batang , daun kaku pemucatan, vena daun, pertumbuhan terhambat.
Pengendalian: perhatikan sanitasi kebun, memusnahkan tanaman yang terserang, kemudian kendalikan vektor dengan insektisida Supracide atau Cascade.
3.         Woody gall (Vein Enation)
Penyebab: virus Citrus Vein Enation dengan vektor Toxoptera citridus, Aphis gossypii. Bagian yang diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour Orange.
Gejala: Tonjolan tidak teratur yang tersebar pada tulang daun di permukaan daun.
Pengendalian: gunaan mata tempel bebas virus dan perhatikan sanitasi lingkungan.
4.         Blendok
Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian yang diserang adalah batang atau cabang.
Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.
Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi, bekas potongan diberi karbolineum atau fungisida Cu. dan fungisida Benomyl 2 kali dalam setahun.
5.         Embun tepung
Penyebab: jamur Odidium tingitanium. Bagian yang diserang adalah daun dan tangkai muda.
Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.
Pengendalian: gunakan fungisida Pyrazophos (Afugan) dan Bupirimate (Nimrot
25 EC).
6.         Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai atau buah.
Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
Pengendalian: pemangkasan teratur. Kemudian gunakan Fungisida Dithiocarbamate /Benomyl (Benlate).
7.         Busuk buah
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian yang diserang adalah buah.
Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas/fungisida benpmyl, pelilinan buah dan pemangkasan bagian bawah pohon.

8.         Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur Phyrophthoranicotianae. Bagian yang diserang adalah akar dan pangkal batang serta daun di bagian ujung dahan berwarna kuning.
Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering.
Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah.
9.         Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan bunga
Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur.
Pengendalian: Fungisida Benomyl (Benlate) atau Caprafol.
10.       Jamur upas
Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian yang diserang adalah batang.
Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan disaput fungisida carbolineum. Kemudian potong cabang yang terinfeksi.
11.       Kanker
Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris Cv. Citri. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai, buah.
Gejala: bercak kecil berwarna hijau-gelap atau kuning di sepanjang tepi, luka membesar dan tampak seperti gabus pecah
dengan diameter 3-5 mm.
Pengendalian: Fungisida Cu seperti Bubur Bordeaux, Copper oxychlorida. Selain itu untuk mencegah serangan ulat peliang daun
adalah dengan mencelupkan mata tempel ke dalam 1.000 ppm Streptomycin selama 1 jam.





8.         P A N E N     
8.1.      Ciri dan Umur Panen
Buah jeruk dipanen pada saat masak optimal, biasanya berumur antara 28–36 minggu, tergantung jenis/varietasnya.
8.2.      Cara Panen
Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.
8.3.      Perkiraan Produksi
Rata-rata tiap pohon dapat menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per tahun. Produksi jeruk di Indonesia sekitar 5,1 ton/ha masih di bawah produksi di negara subtropis yang dapat mencapai 40 ton/ha.
9.         PASCA PANEN       
9.1.      Pengumpulan
Di kebun, buah dikumpulkan di tempat yang teduh dan bersih. Pisahkan buah yang mutunya rendah, memar dan buang buah yang rusak. Sortasi dilakukan berdasarkan diameter dan berat buah yang biasanya terdiri atas 4 kelas. Kelas A adalah buah dengan diameter dan berat terbesar sedangkan kelas D memiliki diameter dan berat terkecil.
9.2.      Penyortiran dan Penggolongan
Setelah buah dipetik dan dikumpulkan, selanjutnya buah disortasi/dipisahkan dari buah yang busuk. Kemudian buah jeruk digolongkan sesuai dengan ukuran dan jenisnya.
9.3.      Penyimpanan
Untuk menyimpan buah jeruk, gunakan tempat yang sehat dan bersih dengan temperatur ruangan 8-10 derajat C.
9.4.      Pengemasan
Sebelum pengiriman, buah dikemas di dalam keranjang bambu/kayu tebal yang tidak terlalu berat untuk kebutuhan lokal dan kardus untuk ekspor. Pengepakan jangan terlalu padat agar buah tidak rusak. Buah disusun sedemikian rupa sehingga di antara buah jeruk ada ruang udara bebas tetapi buah tidak dapat bergerak. Wadah untuk mengemas jeruk berkapasitas 50-60 kg.
Pengemasan
Buah jeruk dikemas dengan peti kayu/bahan lain yang sesuai dengan berat bersih maksimum 30 kg. Dibagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain: nama barang, golongan ukuran, jenis mutu, nama/kode perusahaan, berat bersih, negara/tempat tujuan, hasil Indonesia, daerah asal.




12.       DAFTAR PUSTAKA
           
1.         AAK. 1992. Bertanam Pohon Buah-buahan 2. Penerbit Kanisisus. Yogyakarta.
2.         Rahardi, Yovita H. Indriani & Haryono. 1999. Agribisnis Tanaman Buah. Penebar
Swadaya. Jakarta.
3.         Trubus no 340. 1998. Masih Diperlukan Penambahan 50.129 ha Kebun Jeruk.
4.         R. Bambang Soelarso, Ir. 1996. Budidaya Jeruk Bebas Penyakit. Penerbit Kanisisus. Yogyakarta.
5.         Bonus Trubus No. 345. 1998. Celah-celah Usaha Terpilih.