Bookmarks
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Potensi Kabupaten Tulang Bawang Barat khususnya bidang peternakan berkembang sangat baik. Pembangunan kandang sebagai tempat pemeliharaan idealnya jauh dari pemukiman penduduk, namun kenyataannya tidak sedikit kandang pemeliharaan dibangun dekat dengan pemukiman.
Pemeliharaan ternak tidak akan pernah lepas dari masalah limbah ternak yaitu berupa kotoran yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan penyakit. Bau kotoran ternak yang menyengat dapat menimbulkan polusi udara sehingga menjadi alasan ditutupnya sebuah peternakan.
SMK Negeri I Tulang Bawang Tengah program studi agribisnis ternak unggas dengan kompetensi utama ayam pedaging dan kompetensi tambahan pemeliharaan sapi potong. Kotoran yang dihasilkan dari pemeliharaan ternak tersebut dimanfaatkan menjadi gas ( bio gas ) sebagai bahan bakar brooder. DOC berada di dalam kandang yang spesifik yang disebut kandang indukan atau brooding ring membutuhkan brooder atau pemanas sebagai penghangat selama kurang lebih dua minggu. Gas methan yang dihasilkan dari kotoran ternak digunakan untuk bahan bakar brooder. Pembakaran methan yang sempurna mengurangi efek rumah kaca pemicu pemanasan global. Pemanfaatan methan sebagai bahan bakar berarti juga mencegah pemanasan global yang berdampak buruk bagi kehidupan dan lingkungan.
B. Tujuan
Tujuan dari pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas adalah :
1. Biogas menjadi bahan bakar brooder.
2. Menghemat biaya pemeliharaan DOC pada masa brooding
3. Mengurangi polusi udara
4. Pencegahan penyakit
5. Memanfaatkan sludge sebagai pupuk
C. Batasan Masalah
Limbah ternak yang digunakan adalah kotoran ayam dan kotoran sapi.
II. PELAKSANAAN
A. Pembuatan Reaktor Biogas
Biogas atau sering pula disebut gas bio merupakan gas yang timbul jika bahan-bahan seperti kotoran hewan, kotoran manusia, ataupun sampah direndam di dalam air dan disimpan di tempat tertutup atau anaerob (tanpa oksigen dari udara). Proses kimia terbentuknya gas cukup rumit namun tahap akhir dari proses tersebut dapat dituliskan sebagai berikut,
CH3COOH + H2O CH4 + H2CO3
Asetat Methana
Tabel 1. Komposisi Penyusun Biogas
Jenis Gas Jumlah (%)
Methan (CH4) 54-70
Karbon dioksida (CO2) 27-45
Nitrogen (N) 0,5-3
Karbon monoksida (CO) 0,1
Oksigen (O2) 0,1
Hidrogen sulfide (H2S) < 0,1
Sumber : Pusat Informasi Dokumentasi ITB
Cara menghasilkan gas methan tidak sesulit proses pembentukannya. Cara pembuatan reaktor biogas sebagai berikut :
1. Digester dibuat dan dilengkapi lubang pemasukan bahan, pengeluaran sludge dan pengeluaran gas.
2. Tabung digester diisi kotoran ternak dan air dengan perbandingan kotoran dengan air 1 : 2 yang akan mengalami fermentasi.
3. Lubang pengeluaran gas dihubungkan dengan tabung penampung gas.
4. Tabung penampung gas dihubungkan dengan brooder melalui kran dan selang.
5. Gas methan yang terbentuk siap digunakan untuk bahan bakar brooder.
Archive
Our Partners
Text
Ahmadito
Memory 1
About
Blogger Tricks
Blogger Themes
Mengenai Saya
Slide Title 1
Aenean quis facilisis massa. Cras justo odio, scelerisque nec dignissim quis, cursus a odio. Duis ut dui vel purus aliquet tristique.
Slide Title 2
Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.
Slide Title 3
In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.
Minggu, 16 Desember 2012
Jumat, 14 Desember 2012
PENENTUAN NITRAT DAN FOSFAT
PENENTUAN
NITRAT
A. MAKSUD DAN TUJUAN
§ Untuk mengetahui tehnik pengambilan dan pengawetan
sampel air untuk analisis nitrat.
§ Untuk mengetahui tehnik pengukuran air untuk nitrat.
B. BAHAN DAN ALAT
§ Alat yang digunakan adalah spectrofotometer, buret,
statif, botol Winkler, erlenmeyer, gelas ukur, pipet, beker gelas dan labu
takar.
§ Bahan yang digunakan adalah sampel air, larutan brusin
sulfanilat, larutan H2SO4 1/2 pekat, larutan NaCl, larutan standar KNO3, larutan H2SO4 1 N atau larutan NaOH 1 N.
C. METODE DAN ANALISIS DATA
C.1. Prosedur untuk Nitrat
§ Encerkan larutan
standar nitrat (kadar 100 ppm), buat larutan standar yang berkadar 0,0; 0,05;
0,10; 0,20; 0,40;
0,80; 1,00; 1,50 dan 2,00
ppm.
§ Tambahkan 2 ml larutan
NaCl, 10 ml larutan H2SO4 dan 0,5 ml larutan brusin sulfanilat ke dalam masing-masing larutan standar dan
goyang sampai merata.
§ Kemudian panaskan di
atas hot plate selama beberapa waktu sampai timbul warna kuning.
§
Ambil sebanyak 10 ml air sampel yang telah disaring dan
tuangkan ke labu takar 50 ml serta tambahkan kedua larutan tersebut seperti
pada larutan standar nitrit. Lalu tambahkan lagi
akuades sampai volume menjadi 25 ml.
§ Bandingkan warna air
sampel dengan larutan standar dengan spektrofotometer pada panjang gelombang
420 nm.
§
Rumus
perhitungannya adalah sebagai berikut :
Kadar
Nitrat = A
x S =
….. ppm NO3-N
A = absorban sampel
S = kemiringan/unit absorban.
C.2. Analisis Data
Data parameter
nitrat yang diperoleh dapat anda analisis secara deskriptif dengan histogram
atau diagram balok antara titik sampling atau waktu sampling atau dengan
standar kualitas tertentu.
D. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
§ Data nitrat yang diperoleh, tabulasikan atau buatlah
dalam bentuk grafik dengan standar umum bagi kehidupan organisme air.
§ Bandingkan dan
jelaskan fenomena parameter nitrat antara stasiun pengambilan sampel yang
diambil.
E. KESIMPULAN DAN SARAN
§ Berdasarkan hasil dan
pembahasan yang saudara uraikan tersebut, maka tariklah kesimpulannya.
§ Kemudian berikannya
saran-saran yang berkaitan dengan topik ini.
I.
PENENTUAN
FOSFAT
A. MAKSUD DAN TUJUAN
§ Untuk mengetahui tehnik pengambilan dan pengawetan
sampel air untuk analisis fosfat.
§ Untuk mengetahui tehnik pengukuran air untuk fosfat.
B. BAHAN DAN ALAT
§ Alat yang digunakan adalah spectrofotometer, buret,
statif, botol Winkler, erlenmeyer, gelas ukur, pipet seukuran, beker gelas dan
labu takar.
§ Bahan yang digunakan adalah sampel air, larutan
ammonium molibdat, larutan SnCl2,
dan larutan standart fosfat 100 ppm.
C. METODE DAN ANALISIS DATA
C.1. Prosedur
§ Encerkan larutan baku
fosfat (kadar 100 ppm), buat larutan standar yang berkadar 0,0; 0,05;
0,10; 0,20; 0,40;
0,80; 1,0 dan 1,5 ppm P.
§ Tambahkan 2 ml larutan
ammonium molibdat ke dalam masing-masing larutan standar dan goyang sampai
merata.
§ Tambahkan 5 tetes
larutan SnCl2 dan kocok, sehingga timbul warna biru yang ketajamannya sebanding dengan
kepekatan kadar P. Warna biru akan terbentuk dalam 10 sampai 12 menit dan perlu
penambahan larutan SnCl2 lagi satu tetes agar terbentuk warna biru yang lebih
baik
§ Ukur dan tuangkan 50
ml air sampel ke labu takar 100 ml.
§ Bandingkan warna biru
air sampel dengan larutan standar dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 690 nm.
§
Rumus
perhitungannya adalah sebagai berikut :
Kadar
ortofosfat = A
x S = ….. ppm PO4-P
A = absorban sampel
S = kemiringan/unit absorban.
C.2. Analisis Data
Data parameter
ortofosfat yang diperoleh dapat anda analisis secara deskriptif dengan
histogram atau diagram balok antara titik sampling atau waktu sampling atau
dengan standar kualitas tertentu.
D. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
§ Data ortofosfat yang diperoleh, tabulasikan atau
buatlah dalam grafik dengan standar umum bagi kehidupan organisme air.
§ Bandingkan dan jelaskan
fenomena parameter ortofosfat antara stasiun pengambilan sampel yang diambil.
E. KESIMPULAN DAN SARAN
§ Berdasarkan hasil dan
pembahasan yang saudara uraikan tersebut, maka tariklah kesimpulannya.
Kemudian berikannya saran-saran yang berkaitan dengan topik ini.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G dan Sri Sumestri, Santika. 1987. Metoda
Penelitian Air. Penerbit Usaha Nasional,
Surabaya.
APHA. 1998. Standart Methods of the
Examination of Water and Wastewater.
American Water Works Association Water Pollution Control Federation, New
York.
DPMA.
1981. Pedoman Pengamatan Kualitas Air. Direktorat Jeneral Pengairan, DPU-RI, Jakarta.
Dresscher,
Th. G. N. and H. V. der Mark. 1976. A
Simplified Method for the Assessment of the Quality of Fresh and Slighty
Brackish Water. Hydrobiologia, 48 (3) : 199
- 201.
Environmental
Protection Agency (EPA). 1983. Methods For Chemical Analysis Of Water And
Wastes. Environemntal Monitoring and
Support Laboratory, Cincinati,
Ohio. pp.
Koesoebiono.
1986. Metode dan Teknik Pengukuran Biologi Perairan. Training Penyusunan AMDAL.
PPLH-IPB, Bogor.
Sahri,
A. dkk. 1996. Kimia Lingkungan dan
Pencemaran. Laporan Praktikum. Program Pasca Sarjana, Bidang Studi Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB, Bogor.
Wardhana, W. A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan.
Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.
Wisjnuprapto. 1992. Petunjuk Praktikum Analisa Bahan
Pencemaran di Dalam Air. Pusat
Antar Universitas-Bioteknologi ITB, Bandung.
Rabu, 12 Desember 2012
Penentuan Trayek pH Indikator Ekstrak Bunga Bugenvil (Bougainvillea spectabilis) Menggunakan Metode Titrasi Potensiometri
ABSTRAK
Penentuan Trayek pH Indikator Ekstrak Bunga
Bugenvil
(Bougainvillea spectabilis) Menggunakan
Metode Titrasi
Potensiometri
(Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan
Hortikultura)
Mahalnya harga indikator asam
basa dan keberadaannya yang sulit terutama di sekolah – sekolah yang letaknya
jauh dari dari perkotaan mengakibatkan tidak dapat dilaksanakan. Oleh karena itu disarankan penggunaan senyawa
bahan alam seperti bunga, buah dan sayuran yang berwarna sebagai alternative
indicator asam basa. Ekstrak bunga
bugenvil (Bougainvillea spectabilis) memberikan
warna ungu dalam larutan asam dan memberikan warna hijau dalam larutan
basa. Fakta ini mengindikasikan bahwa
ekstrak bunga bugenvil dapat digunakan sebagai indicator asam basa.
Salah satu kegunaan indicator
asam basa adalah menunjukkan titik akhir titrasi. Untuk tujuan ini, penentuan trayek Ph
indicator ekstrak bunga bugenvil perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah (1) menentukan
trayek pH indicator ekstrak bunga bugenvil menggunakan metode titrasi
potensiometri dan (2) menentukan persen kesalahan indicator ekstrak bunga
bugenvil dibandingkan dengan indicator fenolftalein. Metode yang digunakan untuk menentukan trayek
Ph indicator ekstrak bunga bugenvil adalah metode titrasi potensiometri. Keakuratan indicator ekstrak bunga bugenvil
ditentukan dengan membandingkan volum asam oksalat yang digunakan untuk
mentitrasi larutan NaOH menggunakan indicator ekstrak bung bugenvil dan indicator
fenolftalein.
Kata Kunci: trayek Ph, indicator asam basa, ektrak bunga bugenvil, titrasi
potensiometri
budidaya jeruk tuba barat
1. SEJARAH SINGKAT
Tanaman jeruk adalah tanaman buah tahunan yang berasal
dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk tumbuh. Sejak
ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami atau
dibudidayakan. Tanaman jeruk yang ada di Indonesia adalah peninggalan orang
Belanda yang mendatangkan jeruk manis dan keprok dari Amerika dan Itali.
2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi botani tanaman jeruk adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi: Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rutales
Keluarga: Rutaceae
Genus : Citrus
Species: Citrus sp.
Jenis jeruk lokal yang
dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk Keprok (Citrus reticulata/nobilis L.),
jeruk Siem (C. microcarpa L. dan C.sinensis. L) yang terdiri atas Siem
Pontianak, Siem Garut, Siem Lumajang, jeruk manis (C. auranticum L. dan
C.sinensis L.), jeruk sitrun/lemon (C. medica), jeruk besar (C.maxima Herr.)
yang terdiri atas jeruk Nambangan-Madiumdan Bali. Jeruk untuk bumbu masakan
yang terdiri atas jeruk nipis (C. aurantifolia), jeruk Purut (C. hystrix) dan
jeruk sambal (C. hystix ABC)
Jeruk varietas
introduksi yang banyak ditanam adalah varitas Lemon dan Grapefruit. Sedangkan
varitas lokal adalah jeruk siem, jeruk baby, keprok medan, bali, nipis dan purut.
3. MANFAAT TANAMAN
1) Manfaat tanaman jeruk sebagai makanan buah
segar atau makanan olahan, dimana kandungan vitamin C yang tinggi.
2) Di Beberapa negara telah diproduksi minyak
dari kulit dan biji jeruk, gula tetes, alkohol dan pektin dari buah jeruk yang
terbuang. Minyak kulit jeruk dipakai untuk membuat minyak wangi, sabun wangi,
esens minuman dan untuk campuran kue.
3) Beberapa jenis jeruk seperti jeruk nipis
dimanfaatkan sebagai obat tradisional penurun panas, pereda nyeri saluran napas
bagian atas dan penyembuh radang mata.
4. SENTRA PENANAMAN
Sentra jeruk di Indonesia tersebar meliputi: Garut (Jawa
Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar
(Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Medan (Sumatera Utara).
Karena adanya serangan virus CVPD (Citrus Vein Phloen Degeneration), beberapa
sentra penanaman mengalami penurunan produksi yang diperparah lagi oleh sistem
monopoli tata niaga jeruk yang saat ini tidak berlaku lagi.
5. SYARAT TUMBUH
5.1. Iklim
1. Kecepatan angin yang lebih dari 40-48%
akan merontokkan bunga dan buah. Untuk daerah yang intensitas dan kecepatan
anginnya tinggi tanaman penahan angin lebih baik ditanam berderet tegak lurus
dengan arah angin.
2. Tergantung pada spesiesnya, jeruk
memerlukan 5-6, 6-7 atau 9 bulan basah (musim hujan). Bulan basah ini
diperlukan untuk perkembangan bunga dan buah agar tanahnya tetap lembab. Di
Indonesia tanaman ini sangat memerlukan air yang cukup terutama di bulan
Juli-Agustus.
3. Temperatur optimal antara 25-30 derajat
C namun ada yang masih dapat tumbuh normal pada 38 derajat C. Jeruk Keprok
memerlukan temperatur 20 derajat C.
4. Semua jenis jeruk tidak menyukai tempat
yang terlindung dari sinar matahari.
5. Kelembaban optimum untuk pertumbuhan
tanaman ini sekitar 70-80%.
5.2. Media Tanam
1. Tanah yang baik adalah lempung sampai
lempung berpasir dengan fraksi liat 7- 27%, debu 25-50% dan pasir <>
2. Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat
cocok untuk budidaya jeruk.
3. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok
untuk budidaya jeruk adalah 5,5– 6,5 dengan pH optimum 6.
4. Air tanah yang optimal berada pada
kedalaman 150–200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan
pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar
10%.
5. Tanaman jeruk dapat tumbuh dengan baik
di daerah yang memiliki kemiringan sekitar 30°.
5.3. Ketinggian Tempat
Tinggi tempat dimana
jeruk dapat dibudidayakan bervariasi dari dataran rendah
sampai tinggi
tergantung pada spesies:
1. Jenis Keprok Madura, Keprok Tejakula:
1–900 m dpl.
2. Jenis Keprok Batu 55, Keprok Garut:
700-1.200 m dpl.
3. Jenis Manis Punten, Waturejo, WNO, VLO:
300–800 m dpl.
4. Jenis Siem: 1–700 m dpl.
5. Jenis Besar Nambangan-Madiun, Bali,
Gulung: 1–700 m dpl.
6. Jenis Jepun Kasturi, Kumkuat: 1-1.000 m
dpl.
7. Jenis Purut: 1–400 m dpl.
6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
Persyaratan Benih
Bibit jeruk yang biasa ditanam berasal dari
perbanyakan vegetatif berupa penyambungan tunas pucuk. Bibit yang baik adalah
yang bebas penyakit, mirip dengan induknya (true to type), subur, berdiameter
batang 2-3 cm, permukaan batang halus, akar serabut banyak, akar tunggang
berukuran sedang dan memiliki sertifikasi penangkaran bibit.
Penyiapan Benih
Bibit yang biasa digunakan untuk budidaya
jeruk didapatkan dengan cara generatif dan vegetatif.
Teknik Penyemaian Bibit
a) Cara
generatif
Biji diambil dari buah dengan cara memeras
buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari
selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang.
Areal persemaian memiliki tanah yang subur.
Tanah diolah sedalam 30-4- cm dan dibuat petakan persemaian berukuran 1,15-1,20
m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1 m. Sebelum ditanami,
tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2.
Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam
1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram. Setelah tanam, persemaian diberi atap. Bibit
dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5
bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1)
atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1).
b) Cara
Vegetatif
Metode yang lazim dilakukan adalah
penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu
dipersiapkan batang bawah (onderstam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk
dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan
kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda.
Varietas batang bawah yang biasa digunakan oleh penangkar adalah Japanese
citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange.
6.2. Pengolahan Media Tanam
Tanaman jeruk ditanam
di tegalan tanah sawah/di lahan berlereng. Jika ditanam di suatu bukit perlu
dibuat sengkedan/teras. Lahan yang akan ditamani dibersihkan dari tanaman lain
atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat
dilihat pada data berikut ini:
1) Keprok dan Siem :
jarak tanam 5 x 5 m
2) Manis : jarak tanam 7 x 7 m
3) Sitrun (Citroen) : jarak tanam 6 x 7 m
4) Nipis : jarak tanam 4 x 4 m
5) Grape fruit : jarak tanam 8 x 8 m
6) Besar : jarak tanam (10-12) x (10-12) m
Lubang tanam hanya
dibuat pada tanah yang belum diolah dan dibuat 2 minggu sebelum tanah. Tanah
bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas tanah (25 cm). Tanah
berasal dari lapisan atas dicampur dengan 20 kg pupuk kandang. Setelah
penanaman tanah dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Bedengan (guludan)
berukuran 1 x 1 x 1 m hanya dibuat jika jeruk ditanam di tanah sawah.
6.3. Teknik Penanaman
Bibit jeruk dapat
ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami,
tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan:
1) Pengurangan daun dan
cabang yang berlebihan.
2) Pengurangan akar.
3) Pengaturan posisi
akar agar jangan ada yang terlipat.
Setelah bibit ditaman,
siram secukupnya dan diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas
penyakit di sekitarnya. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh
batang untuk menghindari kebusukan batang.
Sebelum tanaman
berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik
kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti
oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai
penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman
Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.
Penyiangan
Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi
pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.
Pembubunan
Jika ditanam di tanah berlereng, perlu
diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan
tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.
Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk
pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif/tidak
diinginkan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak
seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya,
setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya.
Bekas luka pangkasan ditutup dengan
fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting
pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam
tanah.
Pemupukan
Pemberian jenis pupuk dan dosis
(gram/tanaman) setelah penanaman adalah sebagai berikut:
a) 1 bulan
: Urea=100; ZA=200; TSP=25; ZK=100;
Dolomit=20; P.kandang=20 kg/tan.
b) 2 bulan : Urea=200; ZA=400; TSP=50; ZK=200;
Dolomit=40; P.kandang=40 kg/tan.
c) 3 bulan : Urea=300; ZA=600; TSP=75; ZK=300;
Dolomit=60; P.kandang=60 kg/tan.
d) 4 bulan : Urea=400; ZA=800; TSP=100; ZK=400;
Dolomit=80; P.kandang=80 kg/tan.
e) 5 bulan : Urea=500; ZA=1000; TSP=125; ZK=500;
Dolomit=100; P.kandang=100 kg/tan.
f) 6 bulan : Urea=600; ZA=1200; TSP=150; ZK=600;
Dolomit=120; P.kandang=120 kg/tan.
g) 7 bulan : Urea=700; ZA=1400; TSP=175; ZK=700;
Dolomit=140; P.kandang=140 kg/tan.;
h) 8 bulan : Urea=800; ZA=1600; TSP=200; ZK=800;
Dolomit=160; P.kandang=160 kg/tan.
i) >8 bulan : Urea >1000;
ZA=2000; TSP=200; ZK=800; Dolomit=200; P.kandang=200 kg/tan.
Pengairan dan Penyiraman
Penyiraman jangan menggenangi batang akar.
Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air
kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.
Penjarangan Buah
Pada tahun di mana pohon jeruk berbuah
lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan dan
bobot buah serta kualitas buah terjaga. Buah yang dibuang meliputi buah yang
sakit, yang tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan
kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah
dalam satu tangkai utama terdapat dan sisakan hanya 2-3 buah.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1.
Kutu loncat (Diaphorina citri.)
Bagian yang diserang
adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.
Gejala: tunas keriting,
tanaman mati.
Pengendalian:
menggunakan insektisida bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC),
Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan
350 EC). Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, Selain itu buang
bagian yang terserang.
2. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii,
Aphis gossypii.)
Bagian yang diserang
adalah tunas muda dan bunga.
Gejala: daun menggulung
dan membekas sampai daun dewasa.
Pengendalian:
menggunakan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC),
Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC),
Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Malathion (Gisonthion 50 EC).
3. Ulat peliang daun (Phyllocnistis
citrella.)
Bagian yang diserang
adalah daun muda.
Gejala: alur melingkar
transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok.
Pengendalian:
semprotkan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC,
Basudin 60 EC), Malathion (Gisonthion 50 EC, 50 WP)<>
4. Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes
sheldoni Tetranychus sp)
Bagian yang diserang
adalah tangkai, daun dan buah.
Gejala: bercak
keperakperakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
Pengendalian:
semprotkan insektisida Propargite (Omite), Cyhexation (Plictran), Dicofol
(Kelthane), Oxythioquimox (Morestan 25 WP, Dicarbam 50 WP).
5) Penggerek buah (Citripestis
sagittiferella.)
Bagian yang diserang
adalah buah.
Gejala: lubang yang
mengeluarkan getah.
Pengendalian: memetik
buah yang terinfeksi kemudian menggunakan insektisida
Methomyl (Lannate 25
WP, Nudrin 24 WSC), Methidathion (Supracide 40 EC)
yang disemprotkan pada
buah berumur 2-5 minggu.
6) Kutu penghisap daun (Helopeltis
antonii.)
Bagian yang diserang
Helopeltis antonii.
Gejala: bercak coklat
kehitaman dengan
pusat berwarna lebih
terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang
menjadi nekrosis.
Pengendalian:
semprotkan insektisida Fenitrotionmothion (Sumicidine 50 EC), Fenithion
(Lebaycid), Metamidofos (Tamaron), Methomil (Lannate 25 WP).
7) Ulat penggerek bunga dan puru buah
(Prays sp.)
Bagian yang diserang
adalah kuncup bunga jeruk manis atau jeruk bes.
Gejala: bekas
lubang-lubang bergaris tengah 0,3-0,5 cm, bunga mudah rontok, buah muda gugur
sebelum tua.
Pengendalian: gunakan
insektisida dengan bahan aktif Methomyl (Lannate 25 WP) dan Methidathion
(Supracide 40 EC). Kemudian buang bagian yang diserang.
8) Thrips (Scirtotfrips citri.)
Bagian yang diserang
adalah tangkai dan daun muda.
Gejala: helai daun
menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam,
kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang-kadang disertai
nekrotis.
Pengendalian: menjaga
agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari measuk ke bagian
tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan insektisida berbahan
aktif Difocol (Kelthane) atau Z-Propargite (Omite) pada masa bertunas.
9) Kutu dompolon (Planococcus citri.)
Bagian yang diserang
adalah tangkai buah.
Gejala: berkas berwarna
kuning,
mengering dan buah
gugur.
Pengendalian: gunakan
insektisda Methomyl (Lannate 25 WP), Triazophos (Fostathion 40 EC), Carbaryl
(Sevin 85 S), Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian cegah datangnya semut
yang dapat memindahkan kutu.
10) Lalat buah (Dacus sp.)
Bagian yang diserang
adalah buah yang hampir masak.
Gejala: lubang kecil di
bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
Pengendalian: gunakan
insektisida Fenthion (Lebaycid 550 EC), Dimethoathe (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC)
dicampur dengan Feromon Methyl-Eugenol atau protein Hydrolisate.
11) Kutu sisik (Lepidosaphes beckii Unaspis
citri.)
Bagian yang diserang
daun, buah dan tangkai.
Gejala: daun berwarna
kuning, bercak khlorotis dan gugur daun. Pada gejala serangan berat terlihat
ranting dan cabang kering dan kulit retak buah gugur.
Pengendalian: gunakan
pestisida Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G, Basazinon 45/30 EC), Phosphamidon
(Dimecron 50 SCW), Dichlorophos (Nogos 50 EC), Methidhation (Supracide 40 EC).
12) Kumbang belalai (Maeuterpes dentipes.)
Bagian yang diserang
adalah daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah.
Gejala: daun gugur,
ranting muda kadang-kadang mati.
Pengendalian: perbaiki
sanitasi kebun, kurangi kelembaban perakaran. Kemudian gunakan insektisida
Carbaryl (Sevin 85 S) dan Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G).
7.2. Penyakit
1.
CVPD
Penyebab: Bacterium
like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang:
silinder pusat (phloem) batang.
Gejala: daun sempit,
kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.
Pengendalian: gunakan
tanaman sehat dan bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km
dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk vektor dan perhatikan
sanitasi kebun yang baik.
2. Tristeza
Penyebab: virus Citrus
tristeza dengan vektor Toxoptera. Bagian yang diserang jeruk manis, nipis,
besar dan batang bawah jeruk Japanese citroen.
Gejala: lekuk batang ,
daun kaku pemucatan, vena daun, pertumbuhan terhambat.
Pengendalian:
perhatikan sanitasi kebun, memusnahkan tanaman yang terserang, kemudian
kendalikan vektor dengan insektisida Supracide atau Cascade.
3. Woody gall (Vein Enation)
Penyebab: virus Citrus
Vein Enation dengan vektor Toxoptera citridus, Aphis gossypii. Bagian yang
diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour Orange.
Gejala: Tonjolan tidak
teratur yang tersebar pada tulang daun di permukaan daun.
Pengendalian: gunaan
mata tempel bebas virus dan perhatikan sanitasi lingkungan.
4. Blendok
Penyebab: jamur
Diplodia natalensis. Bagian yang diserang adalah batang atau cabang.
Gejala: kulit ketiak
cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi
keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.
Pengendalian:
pemotongan cabang terinfeksi, bekas potongan diberi karbolineum atau fungisida
Cu. dan fungisida Benomyl 2 kali dalam setahun.
5. Embun tepung
Penyebab: jamur Odidium
tingitanium. Bagian yang diserang adalah daun dan tangkai muda.
Gejala: tepung berwarna
putih di daun dan tangkai muda.
Pengendalian: gunakan
fungisida Pyrazophos (Afugan) dan Bupirimate (Nimrot
25 EC).
6. Kudis
Penyebab: jamur
Sphaceloma fawcetti. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai atau buah.
Gejala: bercak kecil
jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
Pengendalian:
pemangkasan teratur. Kemudian gunakan Fungisida Dithiocarbamate /Benomyl
(Benlate).
7. Busuk buah
Penyebab: Penicillium
spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian yang diserang
adalah buah.
Gejala: terdapat
tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
Pengendalian: hindari
kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas/fungisida benpmyl,
pelilinan buah dan pemangkasan bagian bawah pohon.
8. Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur
Phyrophthoranicotianae. Bagian yang diserang adalah akar dan pangkal batang
serta daun di bagian ujung dahan berwarna kuning.
Gejala: tunas tidak
segar, tanaman kering.
Pengendalian:
pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman,
buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah.
9. Buah gugur prematur
Penyebab: jamur
Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan
bunga
Gejala: dua-empat
minggu sebelum panen buah gugur.
Pengendalian: Fungisida
Benomyl (Benlate) atau Caprafol.
10. Jamur upas
Penyebab: Upasia
salmonicolor. Bagian yang diserang adalah batang.
Gejala: retakan
melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
Pengendalian: kulit
yang terinfeksi dikelupas dan disaput fungisida carbolineum. Kemudian potong
cabang yang terinfeksi.
11. Kanker
Penyebab: bakteri
Xanthomonas campestris Cv. Citri. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai,
buah.
Gejala: bercak kecil
berwarna hijau-gelap atau kuning di sepanjang tepi, luka membesar dan tampak
seperti gabus pecah
dengan diameter 3-5 mm.
Pengendalian: Fungisida
Cu seperti Bubur Bordeaux, Copper oxychlorida. Selain itu untuk mencegah
serangan ulat peliang daun
adalah dengan
mencelupkan mata tempel ke dalam 1.000 ppm Streptomycin selama 1 jam.
8. P A N E N
8.1. Ciri dan Umur Panen
Buah jeruk dipanen pada
saat masak optimal, biasanya berumur antara 28–36 minggu, tergantung
jenis/varietasnya.
8.2. Cara Panen
Buah dipetik dengan
menggunakan gunting pangkas.
8.3. Perkiraan Produksi
Rata-rata tiap pohon
dapat menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per
tahun. Produksi jeruk di Indonesia sekitar 5,1 ton/ha masih di bawah produksi
di negara subtropis yang dapat mencapai 40 ton/ha.
9. PASCA PANEN
9.1. Pengumpulan
Di kebun, buah
dikumpulkan di tempat yang teduh dan bersih. Pisahkan buah yang mutunya rendah,
memar dan buang buah yang rusak. Sortasi dilakukan berdasarkan diameter dan
berat buah yang biasanya terdiri atas 4 kelas. Kelas A adalah buah dengan
diameter dan berat terbesar sedangkan kelas D memiliki diameter dan berat
terkecil.
9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Setelah buah dipetik
dan dikumpulkan, selanjutnya buah disortasi/dipisahkan dari buah yang busuk.
Kemudian buah jeruk digolongkan sesuai dengan ukuran dan jenisnya.
9.3. Penyimpanan
Untuk menyimpan buah
jeruk, gunakan tempat yang sehat dan bersih dengan temperatur ruangan 8-10
derajat C.
9.4. Pengemasan
Sebelum pengiriman,
buah dikemas di dalam keranjang bambu/kayu tebal yang tidak terlalu berat untuk
kebutuhan lokal dan kardus untuk ekspor. Pengepakan jangan terlalu padat agar
buah tidak rusak. Buah disusun sedemikian rupa sehingga di antara buah jeruk
ada ruang udara bebas tetapi buah tidak dapat bergerak. Wadah untuk mengemas
jeruk berkapasitas 50-60 kg.
Pengemasan
Buah jeruk dikemas
dengan peti kayu/bahan lain yang sesuai dengan berat bersih maksimum 30 kg.
Dibagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain: nama barang,
golongan ukuran, jenis mutu, nama/kode perusahaan, berat bersih, negara/tempat
tujuan, hasil Indonesia, daerah asal.
12. DAFTAR PUSTAKA
1. AAK. 1992. Bertanam Pohon Buah-buahan
2. Penerbit Kanisisus. Yogyakarta.
2. Rahardi, Yovita H. Indriani &
Haryono. 1999. Agribisnis Tanaman Buah. Penebar
Swadaya. Jakarta.
3. Trubus no 340. 1998. Masih Diperlukan
Penambahan 50.129 ha Kebun Jeruk.
4. R. Bambang Soelarso, Ir. 1996. Budidaya
Jeruk Bebas Penyakit. Penerbit Kanisisus. Yogyakarta.
5. Bonus Trubus No. 345. 1998. Celah-celah
Usaha Terpilih.
Langganan:
Postingan (Atom)